Istilah Deductible dalam Asuransi

Saat ini asuransi semakin populer di tengah masyarakat Indonesia. Berbagai kalangan masyarakat pun telah memiliki kontrak asuransi. Dengan demikian, perusahaan harus berhati-hati terhadap kemungkianan kerugian. Terlalu banyak klaim yang dilakukan nasabah dapat menyebabkan perusahaan mengalami kerugian. Oleh karena itu, perusahaan asuransi biasanya melakukan siasat-siasat tertentu untuk menghindari kerugian. Salah satu siasat yang mereka lakukan adalah memodifikasi kontrak jaminan asuransi.

Sebenarnya ada beberapa modifikasi yang dilakukan pada kontrak jaminan asuransi, tapi di sini kita hanya akan membahas salah satunya, yaitu apa yang disebut dengan deductible. Deductible bisa dibilang sebagai batas bawah dari besarnya klaim yang dapat dibayar oleh perusahaan asuransi. Jadi, kalau misalnya besar klaim lebih kecil daripada deductible yang ditetapkan perusahaan, maka perusahaan asuransi tersebut tidak akan melakukan pembayaran.

Misal ada seorang bapak sebutlah namanya Oezil mengasuransikan mobil barunya ke sebuah perusahaan asuransi umum. Perusahaan tersebut menetapkan dedutible sebesar Rp 5.000.000. Bapak Oezil sepakat dengan deductible sebesar Rp 5.000.000 tersebut. Suatu hari mobil Bapak Oezil diserempet oleh bajaj sehingga mengalami sedikit lecet. Biaya perbaikan lecet tersebut hanya sebesar Rp 1.000.000. Artinya, Bapak Oezil tidak dapat melakukan klaim kepada perusahaan asuransi tempat ia mengasuransikan mobilnya karena biaya perbaikan lecet tersebut kurang dari deductible yang ditetapkan perusahaan.

Dengan adanya deductible, perusahaan asuransi ingin terhindar dari klaim-klaim yang dinggap kecil. Mungkin pikir mereka, “Jangan sampai lecet sedikit saja kami yang harus menanggungnya”. Mereka tidak mau dipusingkan oleh klaim-klaim yang ”remeh-temeh”. Dengan begitu, banyaknya klaim yang dilakukan akan lebih sedikit daripada yang seharusnya.

Ada dua jenis deductible yang dikenal dalam dunia asuransi, yaitu ordinary deductible (deductible biasa) dan franchise deductible (deductible waralaba).

Dalam ordinary deductible, jumlah yang dibayarkan oleh perusahaan adalah selisih antara loss dan deductible. Pada contoh Bapak Oezil di atas, loss bernilai Rp 1.000.000. Jika Bapak Oezil mengalami loss/biaya perbaikan sebesar Rp 8.000.000, maka, berdasarkan ordinary deductible, perusahaan hanya akan membayar sebesar Rp 8.000.000 – Rp 5.000.000 = Rp 3.000.000. Bapak Oezil tetap harus mengeluarkan uang sebesar Rp 5.000.000 dari kantong sendiri untuk memperbaiki mobilnya.

Berbeda dengan ordinary deductible, dalam franchise deductible, perusahaan akan membayar penuh biaya perbaikan. Jika loss/biaya perbaikan untuk memperbaiki mobil Bapak Oezil adalah Rp 8.000.000, maka perusahaan akan membayar penuh sebesar Rp 8.000.000 untuk perbaikan tersebut. Bapak Oezil tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Bapak oezil cukup melakukan klaim ke perusahaan asuransi lalu beliau akan mendapatkan mobilnya dalam keadaan mulus kembali.